Previous Next
  • Perang Teluk

    Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeyla sekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki. Akibat invasi ini, Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menjatuhkan embargo ekonomi pada 6 Agustus 1990...

  • 5 Negara yang Terpecah Akibat Perang Dunia II

    Negara yang terpecah adalah sebagai akibat Perang Dunia II yang lalu di mana suatu negara diduduki oleh negara-negara besar yang menang perang. Perang Dingin sebagai akibat pertentangan ideologi dan politik antara politik barat dan timur telah meyebabkan negara yang diduduki pecah menjadi dua yang mempunyai ideologi dan sistem pemerintahan yang saling berbeda dan yang menjurus pada sikap saling curiga-mencurigai dan bermusuhan. Setelah perang dunia kedua, terdapat empat negara yang terpecah-pecah, antara lain:

  • Serangan Sultan Agung 1628 - 1629

    Silsilah Keluarga Nama aslinya adalah Raden Mas Jatmika, atau terkenal pula dengan sebutan Raden Mas Rangsang. Dilahirkan tahun 1593, merupakan putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Ayahnya adalah raja kedua Mataram, sedangkan ibunya adalah putri Pangeran Benawa raja Pajang. Versi lain mengatakan, Sultan Agung adalah putra Pangeran Purbaya (kakak Prabu Hanyokrowati). Konon waktu itu, Pangeran Purbaya menukar bayi yang dilahirkan istrinya dengan bayi yang dilahirkan Dyah Banowati. Versi ini adalah pendapat minoritas sebagian masyarakat Jawa yang kebenarannya perlu untuk dibuktikan. Sebagaimana umumnya raja-raja Mataram, Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat. Yang menjadi Ratu Wetan adalah putri dari Batang keturunan Ki Juru Martani, melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I)...

  • Perang Dingin

    Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut...

  • Perang Kamboja-Vietnam

    Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut...

Tampilkan postingan dengan label Perang di Afrika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang di Afrika. Tampilkan semua postingan
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,



Datang sebagai pembebas rakyat Kongo, Lumumba menjadi korban Perang Dingin.
OLEH: MF. MUKTHI
PERISTIWANYA terjadi nun jauh di negeri orang: Kongo. Namun di Labuan Batu, Sumatra Utara, buruh-buruh perkebunan marah. Mereka mengambil-alih perkebunan-perkebunan milik pengusaha Belgia di daerah Mrangir, Aek Paminke, Pernantian, Perlabian, Kanopan Ulu, Padang Halaban, Negeri Lama, dan Sennah. Aksi buruh itu tanpa disertai tindak kekerasan. Tak ada korban jiwa. Mereka juga melaporkan ke pihak berwajib setelah selesai aksi.
Di Jawa Barat, aksi serupa gagal. Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie keburu mengeluarkan larangan. “Terhadap perbuatan-perbuatan yang demikian dapat diambil tindakan sesuai dengan ketentuan undang-undang/peraturan-peraturan yang ada dan berlaku bagi Penguasa Keadaan Bahaya,” tulis Pikiran Rakjat, 23 Maret 1961.
Aksi buruh di sejumlah wilayah di Indonesia itu merupakan bentuk protes atas terbunuhnya Perdana Menteri Patrice Lumumba asal Kongo. Lumumba dan rakyatnya dianggap sebagai teman seperjuangan melawan kolonialisme, penindasan, dan penghisapan.
Lumumba lahir 2 Juli 1925 di Onalua, wilayah Katakokombe, provinsi Kasai, Kongo. Saat itu Kongo adalah wilayah jajahan Belgia sejak 1908. Sejak muda, Lumumba gandrung akan kemerdekaan negerinya. Setelah sempat bekerja sebagai sales bir dan klerek kantor pos, dia mulai manapak karier di dunia politik lewat Partai Liberal Belgia. Pada 1958, dia ikut mendirikan Gerakan Nasional Kongo (MNC) dan kemudian jadi presidennya. Pada tahun yang sama, dia mewakli MNC dalam konferensi All-African Peoples di Accra, Ghana, yang mempertebal keyakinannya akan Pan-Afrika.
Di penghujung 1959, Lumumba ditahan atas tuduhan menghasut kerusuhan antikolonial di Stanleyville yang menewaskan 30 orang. Berbarengan dengan masa awal penahanannya, Konferensi Brusel yang membicarakan masa depan Kongo digelar. MNC menuntut pembebasan Lumumba dan berhasil. Lumumba bebas dan hadir dalam konferensi. Konferensi pun memutuskan kemerdekaan Kongo pada 30 Juni. Sebelum perayaan kemerdekaan, digelar pemilihan umum. Lumumba dan MNC menang dan berhak membentuk pemerintahan. Lumumba jadi perdana menteri, dengan wakil Antoine Gizenga. Sementara Joseph Kasavubu, tokoh nasionalis terkemuka asal Partai Abako, terpilih sebagai presiden.
Dalam perayaan kemerdekaan, yang juga dihadiri Raja Belgia Baudouin, Lumumba mengingatkan penderitaan rakyat Kongo di bawah kolonialisme. Dia juga menyebut kemerdekaan Kongo tak diberikan dengan murah hati oleh Belgia.
Bukan hanya Belgia, Amerika Serikat juga tak senang atas kondisi baru di Kongo. Gerakan kemerdekaan total Lumumba mengganggu kepentingan Barat. Terlebih, sebelumnya Amerika menguasai kekayaan alam negeri itu, sebagai kompensasi dukungannya terhadap klaim Raja Belgia Leopold II atas wilayah cekungan Kongo pada abad ke-19. Sebagai gambaran, uranium untuk bahan pembuat bom atom yang digunakan di Hiroshima-Nagasaki diambil dari pertambangan di Kongo. “Selama 126 tahun, AS dan Belgia telah memainkan peran kunci dalam membentuk nasib orang Kongo,” tulis Georges Nzongola-Ntalaja, profesor African and Afro-American studies di University North Carolina, dalam “Patrice Lumumba: The Most Important Assassination of the 20th Century”, dimuat www.guardian.co.uk.
Amerika pun mendorong Belgia untuk mengambil-alih Kongo kembali. Mereka menginginkan status quo. Di tengah Perang Dingin, mereka juga khawatir Kongo jatuh ke Blok Timur.
Di dalam negeri, Lumumba menghadapi pemberontakan tentara yang tak puas atas kebijakannya yang hanya menaikkan gaji pegawai sipil. Kerusuhan juga meluas. Tak lama kemudian Provinsi Katanga di bawah Moise Tshombe, dengan dukungan Belgia dan perusahaan pertambangan seperti Union Miniere, memerdekakan diri. Provinsi kaya sumberdaya alam lainnya, Kasai Selatan, menyusul.  
Lumumba minta pasukan penjaga perdamaian PBB memadamkan pemberontakan tapi tak berhasil. Dia berpaling ke Uni Soviet.
Presiden Kasavubu, yang tak suka cara yang ditempuh Lumumba, memecat Lumumba. Lumumba protes. Kongo dikendalikan dua kubu yang saling klaim kekuasaan, Kasavubu di Leopoldsville (kini Kinshaha) dan Lumumba di Stanleyville (kini Kisangani). Ketidakamanan itu membuat Kolonel Joseph Mobutu melakukan kudeta pada 14 September. Lumumba dikenai tahanan rumah dengan penjagaan pasukan keamanan PBB. Dia sempat meloloskan diri dan membentuk pemerintahan di pelarian, namun akhirnya kembali ditangkap.
Soviet, yang menuding sekjen PBB dan Barat sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penangkapan itu, menuntut pembebasan Lumumba. Dewan Keamanan PBB lalu menggelar sidang darurat. Perdebatan sengit dan saling veto antara Blok Timur dan Blok Barat terjadi. Soviet kalah suara. Negara-negara yang setuju pendapat Soviet menarik diri dari kontingen pasukan perdamaian. Indonesia salah satunya.
Setelah dipindah ke sana kemari, Lumumba dibawa ke Provinsi Katanga. Dia lalu disekap di Brouwez House. Di situ Tshombe dan “utusan-utusan” Barat merapatkan pembunuhan Lumumba.
Suatu malam awal 1961, Lumumba dibawa ke sebuah tempat rahasia dan wafat di tangan tiga regu tembak. Jasadnya dimutilasi dan dibuang. “Ini jelas solusi elegan yang terbaik bagi Katanga: kematian pasti untuk Lumumba, dan tangan orang-orang Tshombe bersih dari lumuran darah,” tulis Ludo De Witte dalam The Assassination of Lumumba. De Witte menyebutnya sebagai “pembunuhan terpenting abad ke-20”.
Selama puluhan tahun, kematian Lumumba menyisakan kabut: siapa aktor dan dalang di balik pembunuhannya. Belgia menuding Tshombe. Namun pembunuhan itu kini tersingkap tirainya. “Kejahatan keji ini merupakan puncak komplotan pembunuhan buatan pemerintah Amerika dan Belgia, yang menggunakan tangan Kongo dan regu tembak Belgia untuk melaksanakannya,” tulis Georges Nzongola-Ntalaja.
Kematian Lumumba mengejutkan banyak orang di belahan dunia. Di Indonesia, Presiden Sukarno, yang juga berkali-kali jadi sasaran pembunuhan dari tangan-tangan kekuatan asing, menyebut tindakan pengecut itu sebagai banditisme dan menyimpulkannya sebagai tindakan ofensif baru kaum imperialis yang terpaksa dilakukan karena di mana-mana mereka dipukul mundur. Untuk mengenangnya, Sukarno mengabadikan namanya menjadi Jalan Patrice Lumumba (kini Jalan Angkasa, Jakarta) di kawasan Gunung Sahari.
Sementara D.N. Aidit, ketua CC PKI, menyerukan: hukum pembunuh Lumumba dan dukung pemerintah Gizenga! Aidit juga menorehkan kepedihannya dalam sebuah puisi “Yang Mati Hidup Kembali”. Sejawatnya, Njoto, menulis “Merah Kesumba”: Darah Lumumba Merah Kesumba / Kongo!
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Selama hampir 42 tahun berkuasa di Libya, Kolonel Muammar Gadhafi adalah salah satu diktator dunia yang paling eksentrik. Gaddafi sangat piawi memainkan peran politiknya, terkadang dikutuk dan terkadang didekati oleh Barat.

Sementara pemimpin Libya itu, selama berkuasa sangat brutal terhadap rakyatnya terutama, para aktivis Islam, dan sudah berapa banyak tokoh aktivis Islam yang tewas, maupun di penjarakannya. Gaddafi benar-benar seorang otokratis, sampai akhirnya digulingkan oleh rakyatnya.

Gaddafi penguasa yang paling lama berkuasa, 42 tahun, diantara penguasa di dunia Arab modern ini. Gaddafi selalu menampilkan dirinya sebagai "Pemimpin" di dunia Arab, dan penampilannya selalu kontras dan mencolok. Gaddafi suatu ketika menjadi sponsor gerakan perlawanan, dan sangat membenci Barat dan Yahudi, kemudian dia dituduh meledakkan dua pesawat penumpang di Lockerbie. Tetapi, Gaddafi kemudian membantu AS dalam perang melawan teror.

Gaddafi adalah seorang nasionalis Arab yang suka mengejek penguasa Arab yang dituduhnya sebagai antek Barat dan Zionis-Israel. Dalam puncak paradoknya, Gaddafi mengkhotbahkan tentang visinya yang paling "revolusioner" dan utopia, tapi suatu hari berubah menjadi diktator, yang akhirnya memicu revolusi terhadap dirinya.

Presiden AS Barack Obama berjabat tangan dengan pemimpin terguling Libya Muammar Gadhafi, sebelum makan malam pada pertemuan puncak G8 di L'Aquila pada 9 Juli, 2009. Di mana Gaddafi dapat bertemu dengan para pemimpin dunia, yang sangat langka itu.

Kematiannya pada hari Kamis, 20 Oktober, menjelang usianya yang ke 69 - ungkap Perdana Menteri Mahmoud Jibril - di mana sesudah terjadi perang yang sangat brutal dengan para pejuang Libya yang datang mengalahkannya di kota kelahirannya, Sirte. Gaddafi bersumpah tidak akan meninggalkan negaranya, sampai mati, dan keinginannya terkabul.

Sekarang para pejuang Libya (Minggu ini) mendeklarasi akhir kemenangan mereka, di Bengazi. Sebelumnya, Gadhafi tersingkir dari kekuasaannya oleh pemberontak yang dramatis, di mana rakyat diibukota Tripoli, merayakan kemenangan yang sangat luar biasa, pada 21 Agustus. Perang sipil yang berlangsung selama enam bulan, dan menelan korban yang begitu banyak.

Gaddafi terus meneriakkan dan memberikan dorongan para pengikutnya dan tentaranya, terus:"melawan!". Gadhafi telah mendesak para pengikutnya bahkan saat musuh-musuhnya berada di depan pintu gerbang ibukota Tripoli, sebelum melarikan diri ke daerah pedalaman Libya, di mana dia menyerukan kepada para pendukungnya harus terus bertempur, sampai titik darah penghabisan.

Gadhafi meninggalkan bangsanya, dan negeri yang sangat kaya minyak. Minyak begitu melimpah. Negeri yang berpenduduk 6,5 juta itu, sekarang mengalami trauma dengan berbagai kebijakan Gaddafi yang menguras kekayaan negara. Ibaratnya kapal negara diarahkan oleh keinginan seorang pria dan keluarganya. Gaddafi sangat terkenal dengan pakaian yang mewah - mulai dari jas putih dan kacamata hitam dengan seragam militer dengan bahunya menjumbai, jubah berwarna cerah dihiasi dengan peta Afrika - dia menyebut dirinya sebagai pemimpin "Bedouin", Raja, dan Filsuf.

Gaddafi sangat menikmati julukan dari para pemimpin dunia sebagai pemimpin yang menyebalkan, baik di Barat atau Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, setelah pemboman 1986, yang menewaskan prajurit AS di Berlin, menuduh Libya. Reagan memberikan julukan Gaddafi sebagai "anjing gila." Mantan Presiden Mesir Anwar Sadat, yang terlibat perang perbatasan dengan Libya pada 1970-an, menulis dalam buku hariannya bahwa Gadhafi adalah "sakit jiwa" dan "membutuhkan pengobatan."

Muammar Gadhafi dan Para Pemimpin Dunia

Pemimpin Libya Muammar Gadhafi menghadiri perayaan ulang tahun tahta kekuasaannya ke-40, di Lapangan Hijau di Tripoli, 1 September 2009.

Dibalik karakternya yang flamboyan dan kecakapannya memainkan pertunjukan politik, rekannya mengatakan Gadhafi adalah pemimpin yang sangat teliti dalam mengelola kekuasaannya. Gaddafi terlibat dan ikut langsung dalam keputusan besar dan kecil, dan secara terus-menerus bertemu secara pribadi dengan para pemimpin suku dan pejabat militer yang mendukung dia.

Mereka yang menjadi bagian kekuasaannya itu, mendapatkan posisi-posisi yang sangat penting dalam kekuasaannya. Tetapi, umumnya pos-pos yang sangat penting diserahkan kepada keluarganya. Seperti anak-anaknya, saudaranya, dan keluarga dekatnya.

Gaddafi secara permanen melakukan cengkeramannya pada negara. Banyak usaha kudeta dan upaya pembunuhan terhadap dirinya selama bertahun-tahun, tetapi sebagian besar berakhir dengan eksekusi terhadap para komplotan yang ingin menggulingkannya. Mereka yang ingin menggulingkannya mendapt ganjaran digantung di alun-alun ibukota Tripoli, dan disaksikan rakyatnya.

Mengapa umur kekuasaannya begitu panjang? Rahasianya terletak pada cadangan minyak yang sangat besar di bawah gurun pasir di negara Afrika Utara itu. Inilah yang menyebabkan umur kekuasaan Gaddafi begitu panjang. Karena uang dari minyak yang mengalir tanpa henti, bermilyar-milyar dollar, dan sekarang kekyaaan Gaddafi mencapai $ 160 miliar dollar, dan dengan kekayaan sebesar itu, Gaddafi dapat melakukan apa saja yang diinginkannya.

Tetapi, yang paling spektakuler peristiwa yang terjadi pada akhir 2003. Di mana Gaddafi selalu menyangkal, keterlibatannya dalam pemboman pesawat Pan Am, tetapi tiba-tiba Gaddafi mengakui bertanggungjawab atas pemboman terhadap pesawat Pan Am tahun l988, yang menewaskan seluruh penumpangnya, di atas Lockerbie, Skotlandia, yang menewaskan 270 orang. Gaddafi setuju membayar hingga US $ 10 juta dollar tiap keluarga korban.

Gaddafi melakukan langkah-langkah yang dramatis lainnya, di mana Gaddafi juga mengumumkan bahwa Libya akan membongkar arsenal nuklirnya, program senjata kimia dan biologi yang berada di bawah pengawasan internasional.

Peristiwa itu mengubah persepsi Barat terhadap Gaddafi, yang sebelumnya dituduh sebagai : "Sponsor dan bapak" terorisme internasional, dengan sangat cepat mendapatkan penghargaan dari negara-negara Barat. Persepsi negara-negara Barat berubah drastis, dan para pemimpin Barat, mengantri ingin bertemu dengan Gaddafi.

Maka, hanya beberapa bulan kemudian, Amerika Serikat menghapus sanksi ekonomi dan melakukan normalisasi kembali hubungan diplomatik dengan Libya. Para pemimpin Uni Eropa di Brussels bertemu dengan Presiden Muammar Gadhafi. Dengan jamuan yang sangat istimewa. Sebagai sahabat. Tidak nampak adanya permusuhan, seperti yang terjadi sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Condoleezza Rice pada tahun 2008, menjadi pemimpin pertama dan pejabat tertinggi Amerika Serikat mengunjungi negara Libya, di mana hubungan antara Amerika Serikat - Libya sudah lebih dari 50 tahun putus. Perdana Menteri Inggris Tony Blair, mengunjunginya di Tripoli, bahkan Blair mendapatkan "hadiah" yang tidak sedikit dari Gaddafi.

Perusahaan minyak internasional bergegas untuk berinvestasi di bidang Libya. Dokumen terungkap setelah jatuhnya Gadhafi mengungkapkan kerjasama yang erat antara badan intelijen dan CIA dalam mengejar tersangka teror setelah 9 / 11 serangan, bahkan sebelum AS mencabut penunjukan dari Libya sebagai sponsor teror di tahun 2006.

Namun, sikap Gadhafi tidak berubah. Setelah polisi Swiss melakukan penangkapan anaknya Hannibal, karena diduga memukuli dua pelayan di sebuah hotel mewah di Jenewa pada tahun 2008, Gadhafi menangkap dua warga negara Swiss, dan kedua pria Swiss itu ditahan dengan tuduhan yang tidak jelas. Sampai kemudian Gaddafi melepaskan kedua pria Swiss, sesudah anaknya Hanibal dibebaskan pmerintah Swiss.

Negara-negara Eropa, sangat bersemangat membangun hubungan ekonomi dengan Libya. Para investor dari Uni Eropa datang berbondong-bondong ke Libya menanamkan invstasi dibidang minyak, gas, dan industri serta terlibat dalam pembangunan. Sengketa dengan Swiss berakhir.

Tapi, Gadhafi yang sangat lekat dengan mencintai kekuasaannya itu, sekali lagi paria yang flamboyan itu, menggunakan kekuatan militernya yang sangat canggih melakukan penumpasan dengan brutal terhadap pemberontakan rakyatnya, Februari. Gaddafi mengerahkan seluruh kekuatan militer, dan bahka menyewa pasukan bayaran dari Uni Afrika, guna menghadapi pemberontakan rakyatnya. Semua gerakan rakyat di Libya itu, terinspirasi oleh "Revolusi di Dunia Arab". Inilah yang menjadi titik awal berakhirnya era kekuasaan Presiden Muammar Gaddafi, yang sudah berlangsung selama 42 tahun. Waktu yang sangat panjang bagi sebuah kekuasaaan.

Tetapi, hakekatnya "Barat adalah Barat", selalu pragmatis. Gaddafi yang sudah berubah, dan menjadi sekutu Barat, tidak dibelanya, dan tidak ada belas kasihannya terhadap Gaddafi, yang menghadapi pemberontakan rakyatnya. Justru negara-negara Barat, yang sudah memilliki hubungan persahabatan para pemimpinnya dengan Kolonel Muammar Gaddafi itu, mensponsori resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB,yang mengesahkan zona larangan terbang bagi k Libya pada bulan Maret, dan dilanjutkan NATO melancarkan kampanye serangan udara melawan pasukan Gaddafi secara massif.

Begitu watak Barat terhadap para sekutu dan teman mereka, jika sudah posisi melemah, dan tidak mendapatkan dukungan rakyatnya, tak segan-segan membuangnya, dan ikut menghancurkannya. Seperti yang dialami Gaddafi.

Kekuatan para oposisi tidak memadai tanpa adanya dukungan pasukan Nato, yang menggunakan arsenal angkatan udaranya, yang terus-menerus melakukan pemboman terhadap posisi-posisi pasukan Gaddafi, dan itu memberikan keuntungan dan kemenangan bagi kekuatan oposisi.

"Saya seorang pejuang, seorang revolusioner dari tenda. ... Saya akan mati sebagai seorang martir di akhir kekuasaan saya," ucapnya. Semuanya pernyataannya terbukti. Itulah pidato terakhirnya di televisi selama berlangsungya pemberontakan, dengan suara yang bergetar podium dekat patung emas, yang menghancurkan sebuah pesawat tempur Amerika Serikat.

Gadhafi lahir pada tahun 1942 di padang pasir Libya dekat Sirte. Gaddafi putra dari seorang ayah Badui yang pernah dipenjara, karena menentang penjajah Italia. Gadhafi muda tampaknya mewarisi sifat ayahnya yang pemberontak. Ketika masih sekolah, dikeluarkan dari sekolah, karena memimpin demonstrasi, dan menjadi tentara Gaddafi mengorganisir sel revolusioner, yang kemudian melakukan kudeta.

Pada tahun 1969, ketika Gaddafi masih berpangkat kapten, dan berusia 27 tahun, Gaddafi muncul sebagai pemimpin dari kelompok perwira yang menggulingkan Raja Idris. Gaddafi, seorang tokoh, yang tampan gagah berseragam dan kacamata hitam, Gadhafi mengambil alih kekuasaan tak terbantahkan dan menjadi simbol perlawanan anti-Barat di Dunia Ketiga, ketika itu, Libya baru saja dibebaskan dari penguasa kolonial Eropa.

Selama tahun 1970-an, Gadhafi berusaha mengubah bangsanya. Gaddafi menutup pangkalan udara AS. Gaddafi mengusir 20.000 warga negara Italia, sebagai balasan atas penjajahan yang dilakukan Itali, selama tahu 1911-1941. Perusahaan-perusahaan dinasionalisasi. Gaddafi sebagai sosok baru di dunia Arab dan Afrika Utara, yang sangat memberi inspirasi, dan melebihi Presiden Gamal Abdul Nasser.

Pada tahun 1975 ia menerbitkan "Buku Hijau," yang menjadi manifesto politik yang meletakkan apa yang disebut "Teori Internasional Ketiga" dari pemerintah untuk rakyat. Di mana Gaddafi membuat visi yang akan menjadi alternatif, menghadapi Dunia Barat, yang sangat mapan, dan menindas. Gaddafi menyatakan Libya menjadi "Jamahiriya" - "Republik Rakyat" sebuah neologisme Arab. Gaddafi dalam "Buku Hijau" menggabungkan Islamisme, Sosialisme, dan Arabisme. Mirip Nasakomnya Soekarno di Indonesia.

Semua aturan, menyerukan demokrasi perwakilan, yang sebenyarnya suatu bentuk tirani, dan Libya diorganisir menjadi "komite rakyat", yang akhirnya menjelma "Kongres Rakyat," semacam parlemen.

Akhirnya, semua aturan dimaksud dengan tidak ada kecuali Gadhafi, yang ditinggikan dirinya menjadi kolonel dan menyatakan dirinya sebagai "Pemimpin".

"Dia bercita-cita untuk menciptakan sebuah negara yang ideal," kata analis Afrika Utara Saad Djebbar dari Universitas Cambridge. "Dia berakhir tanpa komponen negara yang normal, dan semua ditentukan oleh 'kekuatan rakyat',dan itu sistem yang paling tidak berguna di dunia..". Tetapi, semuanya menjelma menjadi dirinya sendiri.

Pada 1970-an dan 1980-an, Gadhafi mendukung kelompok yang dianggap oleh Barat menjadi teroris - dari Tentara Republik Irlandia, kelompok pejuang Palestina pejuang Muslim di Filipina. Gaddafi melakukan serangkaian petualangan militer di Afrika, menyerang Chad pada 1980-89, dan memasok senjata, memberi pelatihan dan keuangan pemberontak di Liberia, Uganda dan Burkina Faso.

Sebuah insiden 1984 di Kedutaan Besar Libya di London. Seorang pria bersenjata di dalam kedutaan menembaki demonstran terhadap lawan Gadhafi yang ada diluar, dan menewaskan seorang polisi Inggris.

Pemboman Lockerbie diikuti pada tahun 1988, diikuti pemboman terhadap sebuah pesawat Perancis atas Niger, Afrika Barat. Barat marah, dan bertahun-tahun Libya dikenakan sanksi.

Tetapi, suatu perubahan dimulai pada tahun 1999, ketika pemerintah Gadhafi menyerahkan dua Libya untuk diadili dalam pemboman Lockerbie. Pada tahun 2001, sebuah pengadilan Skotlandia, seorang agen intelijen dihukum, dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.

Pada tahun 2002, Gadhafi mengatakan kepada rakykatnya di kota Sabha, selatan ibukota Tripoli. Gaddafi mengatakan, "Di hari tua saya, mereka menyebut kami sebuah negara yang jahat, mereka menuduh kami sebagai negara yang berbahaya. Kami.. dituduh memiliki perilaku revolusioner", ujarnya.

Sepanjang pemerintahannya, ia adalah seorang pemain sandiwara yang sangat piawai melakonkan perannya di tengah-tengah masyarakat dunia. Gaddafi tidak pernah berhenti bersandiwara. Sampai titik akhir perjalanannya di kampung halamannya di Sirte.

Penampilannya di KTT Liga Arab membuat para pemipin Arab mengernyit dahinya. Pada satu kesempatan, Gaddafi berargumen sangat keras dengan Raja Arab Saudi Abdullah, membuat kebencian abadi dengan Raja Arab Saudi itu. Di kesempatan lainnya, Gadhafi merokok cerutu di ruang konferensi selama pidato untuk menunjukkan kebenciannya terhadap Raja Arab Saudi.

Dalam pidato PBB 2009, Gaddafi berbicara tentang ketidak nyamanannya selama berada di New York, karena jet lag, kemudian merobek-robek salinan Piagam PBB, Dewan Keamanan, sembari mengatakan, "Seharusnya disebut dewan terorisme", ucapnya.

Dalam kunjungan ke berbagai negara, Gaddafi sering bersikeras mendirikan tenda, yang sangat merepotkan bagi negara yang dikunjunginya. Dia memakai pengawal pribadi perempuan - yang Gaddafi pernah menjelaskan dengan mengatakan: ". Tidak ada orang laki-laki di dunia Arab", cetusnya.

Sebuah kabel 2009 diplomatik Amerika Serikat yang dirilis oleh situs WikiLeaks, menyebutkan Gadhafi takut tinggal di lantai atas gedung bertingkat, keengganannya naik pesawat terbang, dan suka balap kuda dan menari flamengo.

Gaddafi mengganti nama bulan, bulan Januari yang dingin menjadi, "Ain al-Nar," bahasa Arab untuk "Di mana neraka."

Dalam dekade terakhir, kekuasaannya semakin terkonsentrasi kepada delapan anak kandungnya, yang menguasai pasukan elite militer, intelijen, atau posisi bisnis yang menguntungkan.Anaknya Seif al-Islam, yang berpendidikan di Cambridge, Inggris, secara luas dilihat dipersiapkan sebagai penggantinya. Nampaknya, tidak kepada Kamis, kekuasaan itu akan dialihkannya. Putri satu-satunya, Aisyah, menjadi pengacara dan membantu dalam pemerintahan Saddam Hussein, diktator Irak terguling.

Gadhafi tidak menghabiskan pendapatan minyaknya membangun sekolah, rumah sakit, irigasi dan perumahan. Tidak begitu menyolok sebagai negara yang paling kaya minyak di kawasan Mediterania dalam pembangunan.

"Dia benar-benar membawa Libya dari menjadi salah satu negara yang paling terbelakang dan paling miskin di Afrika. Negara yang kaya minyak dengan infrastruktur yang terbatas, dan penduduk Libya tidak mendapatkan layanan yang memadai bagi kebutuhan hidup mereka", ucap George Joffe dari Universitas Cambridge.

Sepertiga rakyat Libya tetap dalam kemiskinan. Tetapi, Gadhafi hidup dengan penuh berkah dan kekayaan yang melimpah, dan hidup serba mewah di ibukota Tripoli yang disulap menjadi sebuah "surga". Sementara itu, bagian timur Libya, seperti Benghazi, yang menjadi pusat pemberontakan, tetap miskin.

Putranya, selama berlangsung pemberontakan 2011 di Misrata, yaitu Khamis dan Mu'tasim, yang memimpin pasukan unit khusus militer, diyakini tewas. Lainnya, bersama dengan istrinya Safiyah, melarikan diri ke Aljazair tetangga atau Niger. Seif al-Islam, berhasil melarikan diri ke Niger.

Kisah Kolonel Muammar Gaddafi yang sangat penuh warna dalam kehidupan dan kekuasaannya, dan berakhir dengn sangat tragis, dibunuh oleh rakyatnya sendiri. (mas)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

NATO mengakhiri pemboman tujuh bulan mereka di Libya sehingga memungkinkan pemberontak Libya berhasil menggulingkan rezim Muammar Gaddafi.


Para pejabat mengatakan semua operasi NATO akan berakhir Senin tengah malam. Misi pengeboman pasukan aliansi telah berhenti segera setelah kematian Gaddafi awal bulan ini tetapi tetap mempertahankan patroli udara biasa.

Pejabat NATO menyatakan pesawat tempur mereka melakukan 9.600 serangan di tujuh bulan terakhir, dan menghancurkan sekitar 5.900 sasaran militer.

Dewan Keamanan PBB memberikan izin penyerangan NATO ke Libya pada Maret lalu dalam upaya untuk melindungi warga sipil yang terjebak dalam perang saudara. (fq/ap)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Gaddafi memberikan julukan dirinya dengan : "Raja di Raja". Berkuasa selama 42 tahun. Kekayaannya mencapai $ 160 miliar dollar. Anak-anaknya, dan keluarganya ikut berkuasa. Libya menjadi identik dengan Gaddafi, anaknya, dan keluarganya. Selama 42 tahun berkuasa, dan dengan minyak melimpah, tak dapat mengubah hidup rakyatnya. Tetap terbelakang.


"Raja di Raja", akhirnya, dikuburkan sebelum fajar, pukul 05.00 waktu Libya, di padang gurun, dan dirahasiakan. Penguburan jenazahnya dilakukan sesudah lima hari tewas ditembak.

Selama lima hari itu, jenazah Gaddafi itu dipertontokan kepada kalayak di sebuah supermarket, di Misrata. Jenazah Gaddafi dibaringkan begitu saja diatas matras di ruang pendingin, yang digunakan sebagai penyimpanan daging.

Selama lima hari itu jenazah Gaddafi menjadi tontotan rakyatnya. Begitulah nasib Gaddafi. Kematiannya menjadi semacam katarsis bagi rakyatnya di zaliminya selama berkuasa.

Akhir hidup "Raja di Raja" sangat tragis dan hina. Gaddafi ditangkap di gorong-gorong, digelandang, dipukuli, dijambak rambutnya, ditendang hingga terjatuh, kemudian ditembak.

Padahal, Gaddafi sudah menghiba kepada yang menangkapnya, memohon jangan diperlakukan dengan kasar, disakiti, dan diberikan hak hidup. Tetapi, mereka sudah tidak peduli lagi, dan ketika Gaddafi itu terjatuh, ditembak kepalanya.

Penguburan Gaddafi menjadi perdebatan dikalangan pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC), di mana Gaddafi itu dimakamkan? Sebagian menginginkan agar Gaddafi itu dimakamkan di pekuburan para agresor atau musuh rakyat Llibya, di dekat kota Misrata. Kuburan para agresor itu, adalah para loyalis Gaddafi yang tewas dalam pertempuran di Misrata. Tetapi, rakyat di Misrata menolak jenazah Gaddafi dikubur di Misrata.

Namun, sikap yang paling jelas, terkait dengan jenazah Gaddafi adalah Mufti Libya, Sheikh Shadiq al-Gariyani, bagaimana dalam memperlakukan jenazah Gaddafi. Sheikh Al-Gariyani, berfatwa melarang melakukan shalat jenazah atas jasad Gaddafi di masjid atau melakukan shalat ghaib atas jenazah mantan penguasa Libya itu di manapun di muka bumi ini. Itulah status Gaddafi.

Sheikh Abdullah Azzam menegaskan bahwa Gaddafi itu kafir, menjadi musuh umat Islam. Ketika berlangsung aksi-aksi protes, dan terus berjatuhan korban tewas, Sheikh Yusuf al-Qardawi, menfatwakan, agar siapa saja yang dekat dengan Gaddafi membunuhnya. Fatwa al-Qardawi itu disampaikan saat shalat Jum'at di Qatar.

Di dalam al-Qur'an, sangat tegas Allah Azza Wa Jalla menyampaikan larangan membunuh manusia, tanpa dasar yang haq. Lalu, berapa kaum Muslimin dibunuh oleh Gaddafi selama berkuasa 42 tahun?

Allah Azza Wa Jalla memberikan berbagai bentuk kenikmatan kepada manusia, salah satunya berupa kekuasaan, dan hendaknya kekuasaan itu digunakan dalam rangka taat dan tunduk kepada Allah Rabbul Alamin. Bukan menyombongkan diri. Kekuasaan yang dimilikinya hendaknya tetap dalam rangka bersyukur kepada Rabbul Alamin, bukan kemudian berbuat kufur dan durhaka atas nikmat-Nya.

Bahkan suatu ketika "Raja di Raja" Gaddafi menjadi imam shalat, usai membaca al-Fatihah, kemudian membaca surah al-Ikhlas. Gaddafi, tidak membaca, "kull" (katakanlah Muhamamd), tetapi dia langsung membaca: "Allahu ahad", sampai akhir ayat. Begitulah sikap Gaddafi.

Gambaran pandangannya dan sikapnya terhadap Islam, sudah sangat jelas, dan selama berkuasa 42 tahun, tidak mau menegakkan sistem Islam, dan berhukum dengan hukum Islam. Gaddafi menegakkan sistem "la diniyah" alias sekuler, semuanya tertera dengan sangat gamblang dalam "Buku Hijau" nya itu.

Mungkin nasib Gaddafi hanya bisa disamakan dengan mantan diktator Hongaria, Ceausescu, yang ketika berlangsung revolusi di Hongaria, di tangkap, kemudian ditembak bersama isterinya, sampai darah dari kepalanya muncrat. Dalam tayangan telivisi itu, bagaimana Ceasusescu, mengakhiri hidupnya dengan sangat tragis.

Semoga peristiwa yang jauh dari Indonesia, di dunia Arab dan Afrika Utara itu, bisa menjadi 'itibar (pelajaran) bagi para penguasa di manapaun, agar mereka tidak lupa, ketika berkuasa, dan menyakiti rakyat, serta meninggalkan rasa syukur.

Bahwa kekuasaan itu hakekatnya pemberian dari Allah Azza Wa Jalla, yang seharusnya dijalankan dengan penuh amanah, dan tidak semena-mena. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,


Secara tiba-tiba Presiden Barack Obama mengumumkan berakhirnya perang di Irak. Pengumuman Obama itu, menimbulkan reaksi dikalangan internal pemerintahan Obama, termasuk Menteri Pertahanan Leon Panetta, yang menilai terlalu cepat pengumuman itu. Tetapi, diakui oleh Panetta, keputusan politik Obama itu, terkait pemotongan anggaran bagi Pentagon, yang sangat signifikan, yang bertujuan mengurangi defisit anggaran.

Pemerintahan Irak yang dipimpin Al-Maliki dibawah pengaruh Syiah, yang dipimpin Muqtada al-Sadr, dan memperlihatkan sikapnya tidak bersahabat dengan Amerika Serikat. Jadi invasi Amerika Serikat ke Irak, yang banyak menimbulkan korban, tidak menghasilkan tujuan yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat. Justru Amerika Serikat kehilangan hegemoni diwilayah itu.

Perlahan-lahan Amerika Serikat mulai kehilangan pengaruh dan hegemoninya di dunia Arab. Pengaruh Amerika Serikat dikawasan itu terus memudar. Tidak memiliki pengaruh signifikan lagi. Ini bersamaan dengan perubahan politik yang luas di dunia Arab dan Afrika Utara. Di mana sejak berlangsungnya revolusi yang mula-mula terjadi di Tunia, Februari lalu, dan terus menjalar ke seluruh dunia Arab dan Afrika Utara.

Revolusi di dunia Arab dan Afrika Utara itu, menimbulkan dampak yang luas, terutama terjadinya sirkulasi kekuasaan. Pergantian dari rezim sebelumnya kepada pemerintahan baru, yang berbeda coraknya.

Sekarang rezim-rezim diktator yang selama ini menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan Barat, satu-satu berguguran. Digantikan rezim yang baru melalui proses pemilihan. Seperti yang terjadi di Tunisia.

Masalahnya, pemerintahan yang baru, bukan lagi rezim-rezim yang diktator, dan memerintah dengan satu tangan. Tetapi, rezim baru bercorak demokratis, dan mengakomodasi banyak kepentingan, serta tidak lagi sistem pengambilan keputusan ada di satu tangan.

Selain itu, corak pemerintahan baru di dunia Arab dan Afrika Utara itu, memiliki warna ideologi berbeda dengan rezim sebelumnya. Seperti sekarang terjadi di Tunisia dan Libya, kemungkinan Mesir. Di mana kaum Islamis memenangkan pemilihan. Mereka belum tentu dapat menjadi perpanjangan tangan bagi kepentingan Barat. Apalagi, Barat selama ini, terlalu memanjakan Israel. Menjadikan rezim baru di dunia Arab dan Afrika Utara, yang sudah berubah itu, kemungkinan sangat apriori terhadap Barat.

Meskipun, serangkaian langkah yang dijalankan oleh kebijakan Amerika Serikat dan Eropa, mencoba memanfaatkan dengan mendukung gerakan revolusi dan protes di dunia Arab dan Afrika Utara itu, sebagai sebuah siasat, agar mereka tetap mempunyai pengaruh dengan rezim baru, khususnya bercorak Islam.

Lebih-lebih rakyat di dunia Arab dan Afrika Utara, sudah sangat trauma dengan peranan Amerika Serikat dan Eropa, terus-menerus mendukung rezim-rezim diktator dalam kurun waktu sangat panjang. Zine Al Abidin ben Alli, Mubarak, Ali Abdullah Saleh, Gaddafi, Raja Abdulah (Saudi), Raja Abdullah (Jordania), mereka adalah rezim sangat repressif dan menjadi perpanjangan tangan Barat.

Sekarang, seperti langkah-langkah Turki mengusir Duta Besar Israel dari Ankara, dan memutuskan semua tingkat hubungan bilateral dengan Israel itu, menunjukkan bahwa pengaruh Israel dan Amerika sudah menurun. Langkah Turki memberikan inspirasi terhadap dunia Arab dan Afrika Utara, dan mereka ingin lebih bersikap independen.

Bagaimana ketika di Tunisia yang memenangkan pemilihan Partai Islam An-Nahdhah, di Mesir yang memenangkan Partai Keadilan dan Kebebasan, dan Libya menjadi negara Islam, seperti yang dinyatakan oleh Ketua Dewan Transisi Nasional, Mustafa Abdul Jalil? Kemudian, di Yaman, Ali Abdullah Saleh juga tersingkir, dan digantikan kekuatan Islam, seperti Partai Ishlah? Kekuatan Islam di Syria yang dipelopori Gerakan Islam (Sunni), terutama yang menjadi lawan politik rezim Alawiyyin (Shia), semakin menampakkan pengaruhnya. Ini semua akan berdampak terhadap hegemoni Amerika Serikat.

Perubahan di dunia Arab dan Afrika Utara itu, tidak hanya berdampak terhadap hilangnya hegemoni Amerika Serikat, tetapi juga "warning" bagi Israel, seperti yang dikemukakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang mengatakan, bahwa Israel akan semakin terisolasi, jika Israel tidak segera mengambil langkah menuju perdamaian.

"Israel tidak akan survive menghadapi gelombang perubahan di dunia Arab dan kebangkitan Islam", ujar Leon Panetta.

Aksi penyerbuan Kedutaan Israel di Cairo, Mesir, yang begitu hebat, dan kemudian membakar sebagian gedung itu, menandai atmoshfir (suhu) politik di duni Arab sedang berubah. Ini dampaknya akan semakin memojokkan posisi Amerika Serikat dalam percaturan politik di kawasan itu.

Apalagi, pemerintahan baru, yang lahir, sangat berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, yang lebih bercorak Islam, dan semakin beragam dalam sistem pengambilan keputusan nantinya.

Amerika Serikat dan sekutunya Israel, harus mempertimbangkan kembali posisinya di tengah-tengah dunia Arab yang sudah berubah, jika masih ingin mempunyai mitra dengan rakyat dan gerakan-gerakan Islam di dunia Arab dan Afrika Utara. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,

Semua negara Arab dan Afrika Utara mengalami perubahan pollitik, terjadi sirkulasi (pergantian) kekuasaan. Para penguasa lama yang sudah berkuasa dalam kurun waktu yang panjang, akhirnya mereka harus turun. Diturunkan rakyatnya.

Tunisia, Mesir, dan Libya telah terjadi transformasi kekuasaan, dan sekarang memasuki fase baru. Dari rezim-rezim yang otokratis ke arah demokrasi. Pemilu menjadi agenda kedua setelah terjadi perubahan politik, dan dilanjutkan dengan penyusunan konstitusi baru.

Persoalannya bagaimana corak pemerintahan yang datang di sejumlah negara Arab, di masa yang akan datang. Dapatkah kekuatan Islam menjadi alternatif baru?


Di hampir semua negara Arab dan Afrika Utara, selama berkuasanya rezim-rezim yang otokratis, sistem yang berlaku adalah sistem sekuler. Kekuatan Islam yang ada selalu ditindas, dan tidak diberi kesempatan oleh rezim yang berkuasa. Sampai terjadi perubahan politik, melalui sebuah revolulsi dan pemberontakan bersenjata seperti yang terjadi di Libya.

Selama rezim-rezim otokratis berkuasa, yang hidup dan eksis adalah kekuatan politik sekuler, yang memang menjadi perpanjangan tangan rezim. Mereka menjadi alat rezim yang berkuasa, sembari menindas kekuatan Islam. Nilai-nilai Islam direduksi. Sampai ke titik nol. Rezim-rezim yang berkuasa di dunia Arab dan Afrika Utara itu, menolak dan memerangi prinsip-prinsip Islam, yang diperjuangkan oleh Gerakan Islam.

Sekarang berlangsung pemilihan di Tunisia, Mesir, dan ke depan Libya, juga akan melangsungkan pemilihan.

Tentu, persoalan yang paling pokok, adakah kekuatan sekuler dan Barat, yang sekarang terlibat dalam perubahan memberikan ruang secara "fair" bagi Gerakan Islam, memberlakukan sistem Islam?

Di Tunisia kekuatan kaum sekuler melalui partai-partai politik, menyerang Partai An-Nahdhah, sebagai kekuatan teroris. Menuduh Rashid Ghannaoushi sebagai ancaman, dan itu mereka lakukan melalui kampanye. Bahkan, di tengah-tengah berlangsungya pemungutan suara pun, sejumlah anggota dari partai sekuler, meneriakkan cemoohan kepada Ghannoushi, agar kembali ke London, dan menyebutnya sebagai teroris.

Di Mesir pertarungan lebih sengit antara kekuatan Islamis dengan sekuler. Mereka menolak kekuatan politik Islamis, yang sekarang ikut dalam kontes pemilu, yang diwakili Partai Keadilan dan Kebebasan, yang didirikan Jamaah Ikhwanul Muslimin, di Mesir. Kaum sekuler yang diwakili Partai Wafd, menuduh Partai Keadilan dan Kebebasan sebagai ancaman masa depan Mesir.

Konflik Islam dan Kristen yang akhir-akhir berlangsung di Mesir, hanyalah sebuah "cara" (uslub), kekuatan-kekuatan yang ingin mendiskriditkan kekuatan Islam, yang dituduh tidak toleran dan mengancam golongan minoritas. Karena itu, di Mesir suhu politik meningkat menjelang pemilu.

Tentu, yang sangat menarik pernyataan Ketua Dewan Transisi Nasional (NTC) Mustafa Abdul Jalil, yang menegaskan, bahwa Tunisia bangsa Muslim, dan akan menegakkan syariah Islam, termasuk yang terkait dengan poligami", cetusnya. Jalil, menambahkannya, "Akan membatalkan semua aturan dan hukum yang bertentangan dengan hukum Islam", tegasnya.

Kekuatan sekuler yang ada di semua negara-negara Arab, dibelakangnya adalah Barat, yang mereka mempunyai kepentingan yang dalam di negeri-negeri Muslim. Sejak penjajahan mereka menjelang abad ke l9, sampai sekarang mereka tidak ingin melepaskan hegemoninya, dan masih terus akan mencengkeram kaum Muslim di dunia Islam.

Kaum sekuler menjadi represantasi kepentingan Barat, yang ingin terus melanggengkan jajahan mereka di negeri-negeri Muslim. Dengan terus menjaga kaum sekuler, dan melenggengkan mereka, dan mereka akan tetap menjadi perpanjangan tangan kepentingan Barat.

Perang dan revolusi baru saja usai, tetapi sekarang memasuki tahapan baru, perang dan revolusi menghadapi kaum sekuler, yang menjadi perpanjangan tangan Barat.

Tentu perang dan revolusi dalam bentuk perang dan revolusi yang lain, sudah tidak menggunakan senjata, tetapi perang dan revolusi beralih di parlemen. Dapatkah kekuatan Islam mewujudkan keinginannya? Menjadikan Islam sebagai sistem dan aturan serta undang-undang di setiap negeri Muslim. Bukan lagi menegakkansistem, aturan dan undang-undang sekuler, yang merupakan alat kepentingan Barat.

Sayangnya, seringkali kekuatan-kekuatan Gerakan Islam jarang yang kuat dan istiqomah, memegang amanah Allah, menegakkan dinul haq, serta menegakkan sistem Islam, yang merupakan wujud dari "syumuliyatul Islam", kemudian mereka menyerah dan berlaku pragmatis, dan mengganti nilai-nilai Islam yang mulia itu dengan kekuasaan.

Mereka takut dengan kaum sekuler yang mendapatkan dukungan Barat, dan kemudian mereka merubah prinsip perjuangan mereka, dan menggantinya dengan prinsip-prinsip sekuler dan nasionalisme, yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan Barat.

Maka, jika ini yang terjadi, seluruhnya akan menjadi sia-sia perjuangan mereka, yang sudah mengorbankan begitu banyak nyawa dan darah. Tetapi, kemudian para pemimpinnya menggadaikan prinsip-prinsip yang menjadi dasar perjuangan mereka.

Semoga kita masih dapat berharap kepada Gerakan Islam yang ada di seluruh negara Arab dan Afrika Utara, agar tidak larut dalam kekuasaan dan masuk dalam jeratan strategi kaum sekuler dan Barat.

Kemudian, partai-partai Islam seperti barang di "etalase", yang hanya indah dilihat, tetapi tidak memiliki arti apa-apa. Semoga. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Bagaimana revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara telah membawa perubahan kekuasaan yang sangat dramatis. Kurang dari setahun yang lalu, keempat orang yang paling kuat di Afrika Utara dan Timur Tengah masih dalam gelak-tawa, dan bertemu dalam konferensi.


Hari ini, satu sudah mati, satu di pengasingan, satu menghadapi pengadilan, dan satunya menunggu. Sementara itu, hanya salah satu dari mereka tetap berkuasa. Tapi, tidak bakalan lama.

Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Presiden Libya Moammar Gadhafi, dan Presiden Mesir Hosni Mubarak, mereka begitu tersenyum di depan kamera, pada pertemuan puncak para pemimpin Afrika dan Arab yang diselenggarakan di kampung halaman Gadhafi itu, Sirte, Oktober lalu.

Setahun kemudian, berlangsung pemberontakan atau revolusi di dunia Arab, yang menyapu negara-negara mereka, dan para pemimpin yang pernah ditakuti, dan dibenci, serta tidak pernah tersentuh apapun telah disingkirkan.

Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali adalah yang pertama dari kelompok empat pemimpim yang jatuh. Kerusuhan yang berkembang, berubah menjadi revolusi memicu jatuhnya pemimpin Arab itu dari negaranya pada bulan Desember tahun lalu. Ketika penjual buah Muhammad Al Bouazizi membakar dirinya, karena pemuda yang frustrasi itu menjadi pengangguran di negara Tunisia itu.

Kemudian Al Bouazizi meninggal, tetapi tindakannya memberikan inspirasi lairnya gerakan protes massa, dan ribuan rakyat turun ke jalan untuk menuntut perubahan politik. Gerakan rakyat yang terus membesar itu, membuat Presiden Zainal al Abidin melarikan diri ke Arab Saudi, dan berakhir kekuasaannya yang sudah berlangsung selama lebih tiga puluh tahun itu.

Dampak Revolusi Arab

Ben Ali, yang telah memerintah Tunisia sejak mengambil kekuasaan dalam kudeta pada tahun 1987, melarikan diri ke Arab Saudi, tiga minggu kemudian, pada tanggal 14 Januari. Dia diadili secara in absentia karena korupsi, dan dijatuhi hukuman 35 tahun penjara.

Kemudian, pemerintahan baru di Tunisia akan mengadakan pemilihan pada akhir pekan ini, dan merupakan pemilihan pertama pasca-revolusi. Di Tunisia kekuatan utama di negeri itu, Partai An-Nahdhah, yang dipimpin Prof. Rashid Gaunushi, yang pernah hidup di pengasingan di London.

Hosni Mubarak berikutnya kehilangan cengkeraman kekuasaannya, akibat pemberontakan rakyatnya, yang berlangsung di seluruh Mesir.Ratusan ribu Mesir mendirikan kemah-kemah sebagai bentuk protes di Tahrir Square, Kairo.

Ratusan orang tewas dan terluka, saat para demonstran menyerukan pengunduran dirin Mubarak - presiden Mesir yang berkuasa sejak 1981 - gerakan itu menuntut Mubarak mengundurkan diri dan meninggalkan negara itu. Gerakan protes itu bentrok dengan pasukan pro-pemerintah yang menimbulkan banyak korban.

Mubarak awalnya menolak menyerahkan kekuasaannya, tetapi Mubarak akhirnya mundur pada tanggal 11 Februari. Sekarang Mubarak sedang diadili karena korupsi dan membunuh lebih dari 800 demonstran.

Korban terbaru dari revolusi Arab, adalah Presiden Libya Kolonel Moammar Gadhafi, seorang diktator, yang berkuasa lebih empat puluh tahun, dan kekuasaannya berakhir dengan tragis, ketika Gaddafi tewas di kota kelahirannya, Sirte, Kamis, 20 Oktober, kemarin.

Kematian Gaddafi

Gadhafi telah mengungsi ke kampung halamannya, di Sirte, tak lama setelah pejuang oposisi mengambil alih ibukota Tripoli dua bulan lalu, dan berlangsung pertempuran selama berbulan-bulan untuk menguasai kota-kota di seluruh negeri. Lebih delapan bulan pertempuran berkecamuk, antara kekuatan oposisi melawan pasukan yang setia kepada Gaddafi.

Hanya satu dari empat pemimpin Arab yang masih bertahan, yaitu Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, di mana dia masih bertanggung jawab - atas kerusuhan di negaranya, di mana protes damai di Sanaa, Aden dan Taiz telah menemui perlawanan sengit dari unit tentara masih setia Saleh, akibatnya meninggalkan ratusan orang yang mati.

Saleh, yang telah berkuasa sejak 1978, selamat dari upaya pembunuhan pada bulan Juni lalu, ketika istana presiden dibom, menewaskan lima orang dan melukai Saleh dan beberapa menterinya.

Ali Abdullah Saleh menghabiskan beberapa bulan di Arab Saudi, guna mendapatkan perawatan medis, akibat luka bakar dan paru-parunya mengalami luka parah, dan sekarang kembali ke Sanaa, bulan lalu.

Abdullah Saleh telah berulang kali berjanji untuk mundur sebelum pemilu presiden berikutnya, tetapi kelompok oposisi di Yaman, mengatakan ia telah melanggar janji-janji berkali-kali seperti sebelumnya.

Namun, kematian Gadhafi, seperti kartu domino yang jatuh, dan meningkatkan harapan para aktivis gerakan oposisi bahwa mereka juga dapat menggulingkan penguasa lama mereka.

Berapa lama lagi, Ali Abdullah Saleh, Bashar al-Assad, Raja Arab Saudi Abdullah, dan Raja Jordania Abdullah, yang sekarang masih bercokol, dan memegang kekuasaannya?

Mungkin tidak lama lagi. Jika mereka tidak pergi, maka rakyatnya akan memaksa mereka pergi selama-lamanya. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,


Seperti kartu domino. Satu-satu jatuh. Berurutan. Semuanya pasti akan jatuh. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu. Kapan mendapat gilirannya? Betapapun mereka berusaha mempertahankannya. Tak ada kekuatan yang dapat menahannya. Kemudian segalanya berakhir dengan sangat tragis.

Pertama kali yang pergi meninggalkan kekuasaannya Presiden Tunisia Zainal Abidin bin Ali, yang berkuasa hampir tiga dekade (tiga puluh tahun). Merebut kekuasaan dari penguasa sebelumnya, Habib Bourguiba, yang berhasil digulingkannya. Bourguiba yang sudah sakit-sakitan itu, harus merelakan kekuasaannya diserahkan kepada Zainal Abidin bin Ali.

Penguasa Tunisia beserta keluarganya masih beruntung. Karena Raja Arab Saudi Abdullah masih melindunginya. Mendapatkan suaka bersama keluarganya. Sekarang menikmati hari tuanya di pengasingan di Arab Saudi. Sekalipun menghadapi tuntutan rakyatnya. Tetapi rakyat Tunisia seperti sudah mulai melupakannya. Rakyat Tunisia mulai kehidpan baru, dan menata kehidupan mereka.

Pengaruh gerakan revolusi rakyat yang berlangsung di Tunisia itu, berimbas terhadap Mesir, dan Presiden Hosni Mubarak, yang sudah berkuasa tiga dekade itu, tak pula mampu bertahan. Mubarak berhasil digulingkan rakyatnya.

Mubarak nasibnya tidak sebaik Zainal al Abidin, karena Mubarak dan anak-anaknya serta isterinya, harus menghadapi tuntutan di pengadilan. Dalam kondisi yang sudah sakit-sakitan sekarang menghadapi tuntutan pengadilan.

Tidak ada yang membelanya. Orang-orang dekatnya meninggalkan. Sekutunya ikut menjatuhkannya saat Mubarak, menginginkan pertolongan. Sekarang Mubarak sendirian dengan anak-anaknya serta isterinya, menghadapi tuntutan atas kekuasaannya yang dia pegang selama hampir tiga dekade.

Pengadilan yang sekarang bukan lagi bisa melindunginya, justru mendakwanya melakukan pembunuhan terhadap aktivis yang berjuang menggulingkannya.

Tentu, yang paling tragis, penguasa Libya Muammar Gaddafi, yang berusaha mempertahankan kekuasaannya, dan menggunakan kekuatan militer yang dimilikinya, selama delapan bulan, berakhir dengan tragis. Kematian. Gaddafi mati di tangan rakyatnya sendiri. Nasib begitu hina.

Delapan bulan perang di Libya antara kekuatan yang ingin menumbangkan kekuasaannya dengan kekuatan-kekuatan yang mendukungnya. Gaddafi dengan segala kekuatan militer yang dimilikinya berusaha mempertahankan kekuasaan. Begitu banyak korban yang tewas. Ribuan. Puluhan ribuan terluka. Akibat perang saudara itu.

Semuanya, karena Gaddafi terlalu mencintai kekuasaan, dibandingkan mencintai rakyatnya. Tidak mau menyerahkan kekuasaan yang sudah digenggamnya selama empat dekade.

Para penguasa Arab dan Afrika Utara itu, sekarang berguguran, seperti kartu domino, menghadapi rakyatnya, yang memang sudah terlalu lama menghadapi para penguasa, yang sangat lalim.

Karakter para penguasa Arab, umumnya mereka mendapatkan kekuasaan dengan jalan kekerasan, kudeta, dan berakhir dengan kudeta, dan sekarang menghadapi revolusi rakyatnya. Mereka menggunakan kekuasaannya dengan kejam, dan penuh kekerasan yang sangat. Kekuasaan bukan digunakan melindungi rakyatnya. Para penguasa Arab benar-benar seorang despotis.

Kekuasaan menjadi sebuah "perusahaan keluarga". Di mana pemerintahan dan kekuasaannya sangat elitis. Dikelola dan dikendalikan bersama dengan keluarganya.

Anak-anaknya, saudara-saudaranya, kerabatnya, isterinya, serta kawan-kawannya. Segelintir kecil orang yang sangat berkuasa.

Mereka menguasai pemerintahan, birokrasi, militer, aparat intelijen, ekonomi, dan seluruh sarana yang menjadi hajat hidup rakyat, berada di tangan segilintir orang, yaitu keluarganya. Keluarga terdekat. Itulah sistem pemerintahan diseluruh dunia Arab dan Afrika Utara.

Tidak ada pembagian kekuasaan yang transparan dan terbuka. Semua pengelolaan negara seperti mengelola perusahaan pribadi. Sangat tertutup.

Di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Saudi Arabia, Yordania, Maroko, Aljazair, semuanya pengelolaan negara sangat ekslusif. Sangat terbatas. Orang-orang luar diluar keluarga dan kerabatnya sangat dibatasi kewenangannya. Tidak ada sirkulasi (pergantian) kekuasaan regular (terutar). Kekuasaan turun-temurun. Orang-orang diluar garis keturunannya, tidak bakal dapat berkuasa.

Mereka ingin mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang sangat naif. Dengan kekerasan dan menggunakan kekuatan militer. Menindas rakyat. Rakyat dihancurkan. Setiap gerakan yang menginginkan perubahan ditindas dan dihancurkan. Itulah tradisi kekuasaan di dunia Arab.

Sementara itu, para penguasa dan keluarganya, mereka hidup seperti dalam dongeng-dongeng. Anak dan menantu Presiden Tunisia Zainal al Abidin, yang tinggal di Paris, mempunyai seekor harimau, yang makannya lebih mahal, dibandingkan makan yang digunakan seribu orang rakyatnya.

Militer dan intelijen dikendalikan keluarganya, atau kelompok-kelompok yang satu suku atau aliran. Seperti yang terjadi di Syria. Di mana militer dan intelijen negeri itu, dipegang oleh keluarga Bashar al-Assad dan kelompok Alawiyyin (Shiah).

Berapa lama mereka dapat mempertahankan kekuasaan dengan cara seperti itu? Mereka rezim yang tamak dan rakus, serta menindas rakyatnya, dan menjadi alat kepentingan Amerika dan Zionis-Israel. Sekarang mereka satu-satu berguguran.

Tragisnya. Dalam kondisi yang sekarat mereka tidak mendapatkan pertolongan dan dukungan. Justru Amerika dan Eropa mengirimkan pesawat tempur dan bom menghancurkan mereka.

Kematian Kolonel Muammar Gaddafi itu, tak lama sesudah kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hallary Clinton, yang bertemu pejabat Pemerintahan Transisi Libya (NTC) Mustafa Abdul Jalil, di mana Hallary Clinton, menyerukan agar menangkap Gaddafi hidup atau mati.

Itulah nasib para pemimpin Arab dan Afrika Utara, yang lalim dan tamak,serta menjadi alat Barat, sekarantg mereka harus menghadapi nasibnya yang sangat tragis. Mereka bukan hanya menghancurkan masa depan rakyatnya, tetapi juga menghancurkan Islam dan umatnya.

Kekuaaan yang digenggamnya itu, tak dapat dipertahankan, dan meninggalkannya dan pergi, saat-saat mereka membutuhkannya. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,


Perdana menteri Libya dari NTC mengatakan Rabu kemarin (19/10) , bahwa pemimpin terguling Muammar Gaddafi diyakini merekrut pejuang dari negara-negara Afrika lainnya dan mempersiapkan diri untuk melakukan pemberontakan, dalam upaya untuk mendestabilisasi rezim baru Libya.

Pernyataan yang disampaikan oleh Mahmud Jibril mencerminkan kekhawatiran bahwa Gaddafi akan dapat menggunakan hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga yang telah berlangsung selama lebih dari empat dekade dirinya berkuasa untuk membantu dia memulai sebuah upaya untuk kembali berkuasa.

"Laporan menunjukkan bahwa 68 kendaraan dengan setidaknya ada delapan pejuang di setiap kendaraan menyeberangi perbatasan Libya ke Mali ke tempat persembunyian Gaddafi di gurun selatan," kata Jibril kepada wartawan.

Dia mengatakan Gaddafi telah membuat kesepakatan dengan suku Hamada, yang menyebar di perbatasan antara Chad, Sudan dan Libya, untuk menyediakan 12.000 pejuang dalam upaya membantu dirinya melakukan perlawanan terhadap rezim baru negara itu.

AS juga prihatin tentang kemungkinan tersebut, Sekretaris Negara Hillary Rodham Clinton mengatakan selama kunjungan ke Tripoli Selasa lalu bahwa ia berharap Gaddafi untuk segera ditangkap atau dibunuh.

Loyalis Gaddafi sendiri sudah mempersiapkan perlawanan sengit di beberapa daerah, mencegah pemimpin baru Libya menyatakan kemenangan penuh hampir dua bulan setelah pasukan revolusioner merebut Tripoli dan telah menguasai banyak bagian lain dari negara kaya minyak Afrika Utara tersebut.(fq/ap)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: ,


Pesawat-pesawat tempur militer Kenya menyerang posisi pejuang al-Shabaab di Somalia selatan menjelang serangan darat terhadap kelompok militan yang disalahkan oleh Nairobi atas tuduhan melakukan penculikan baru-baru ini di Kenya.

"Pesawat kami terlibat dalam operasi," kata juru bicara Angkatan Darat Kenya manyor Emmanuel Chirchir pada Rabu kemarin (19/10), AFP melaporkan.

Pasukan Kenya telah bergerak maju sekitar 100 kilometer (60 mil) ke daerah selatan dan, setelah menguasai kota kunci Somalia Qoqani pada hari Selasa lalu, yang semakin memperkuat putaran lain serangan untuk melakukan serangan di kota strategis Afmadow, yang sebagian besar dikendalikan oleh al-Shabaab.

Pasukan yang setia kepada pemerintah transisi Somalia juga dilaporkan mempersiapkan diri untuk memasuki Afmadow untuk mengusir pejuang Al-Shabaab.

Sasaran utama serangan pasukan pemerintah Somalia dan Kenyaadalah untuk mengusir militan dari kota pelabuhan Kismayu - markas ekonomi Al-Shabaab, yang terletak sekitar 120 kilometer (75 mil) di sebelah tenggara Afmadow.

"Kami bertekad untuk membersihkan al-Shabaab dari Kismayu dan kemudian membersihkan mereka dari semua Somalia," kata Jenderal Yusuf Hussein Dumaal, komandan pasukan pemerintah Somalia di selatan.

Intervensi militer Kenya Nairobi menyusul adanya tuduhan bahwa al-Shabaab telah menculik empat wanita Eropa, termasuk dua pekerja bantuan kemanusiaan Spanyol, di Kenya selama beberapa minggu terakhir.(fq/prtv)

Sumber: http://www.eramuslim.com
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Pada abad pertama SM, terjadi pemberontakan sipil di kota Roma. Para jenderal Romawi (yang sekalgus merupakan gubernur) saling memperebutkan kekuasaan. Pada 49 SM, terjadi lagi perang sipil antara Julius Caesar dan Pompey Magus. Caesar berhasil mengalahkan Pompey dan kembali ke Roma untuk membuat beberapa perubahan pada sistem politik Romawi. Namun dia dibunuh pada 44 SM. Persekutuan sementara didirikan oleh Oktavianus (keponakan Caesar), dan Markus Antonius (Mark Antony), salah satu anak buah Caesar. 

Mereka berbagi kekuasaan, Oktavianus memerintah wilayah barat, sedangkan Antonius mengurusi wilayah timur, seperti Yunani dan Suriah. Suatu hari, Antonius jatuh cinta pada Cleopatra, ratu Mesir dan mantan kekasih Caesar. Antonius lalu menceraikan saudari Oktavanianus dan menikahi Cleopatra, akibatnya terjadi perang antara keduanya. Oktavianus berhasil mengalahkan Antonius pada pertempuran laut di Aktium pada 31 SM. Antonius dan Cleopatra lalu bunuh diri.

Sebagai satu-satunya pemegang kekuasaan, Oktavianus pun menjadi kaisar pertama Romawi pada 30 SM. Pada 27 SM, Oktavianus kembali ke Roma dan mulai melakukan reformasi pemerintahan. Namanya diganti menjadi Augustus Caesar. Romawi akhirnya kembali pulih setelah perang sipil yang panjang. Karya-karya Virgilus dan Ovidius bermunculan pada periode ini.

Selama perang sipil, Romawi memberikan kewarganegaraan Romawi pada para sekutunya, setelah Perang Sosial (91-89 SM). Pada masa Julius Caesar, kewarganegaraan boleh diberikan pada orang non-Italia, misalnya orang Galia, dan pada orang yang ingin tinggal di Kekaisaran Romawi. Salah satu warga Romawi yang terkenal adalah Saulus yang Yahudi, yang kelak dikenal sebagai Rasul Paulus.

Banyak di antara kaisar Romawi yang tak dilahirkan di kota Roma. Mungkin satu-satunya syarat untuk menjadi kaisar Romawi adalah harus warga Romawi. Kadanag, Senat memilih orang sebagai kaisar, namun di lain waktu, kandidat kaisar dicalonkan oleh pasukan Romawi di berbagai provinsi.

Kekaisaran Romawi ketika mencapai wilayah terluasnya di bawah pemerintahan kaisar Trajanus
Augustus meninggalkan dinasti di Romawi setelah dia meninggal pada 41 M. Dia diteruskan oleh pemerintahan Tiberius (14-37 M), Kaligula (37-41 M), Klaudius (41-54 M) dan Nero (54-68 M). Dinasti itu berakhir setelah kaisar Nero wafat pada 68 M. Dia bunuh diri setelah rakyatnya memberontak padanya. Setelah Nero, Romawi dipimpin oleh tiga kaisar dan masa pemerintahan mereka berlangsung pendek.

Pada 69 M, gubernur Romawi, Vespasianus (69-79 M), menjadi kaisar dan mendirikan dinasti yang baru. Di digantikan oleh putranya Titus (79-81 M) dan Domitianus (81-96 M).

Kekaisaran Romawi mencapai level dan stabilitas yang baru ketika dipimpin oleh kaisar Trajanus (98-117 M), Hadrianus (117-138 M) dan Antoninus Pius (138-161 M). Markus Aurelius (161-180 M) harus menjalani serangkaian pertempuran melawan kaum barbar di perbatasan Romawi. Dia digantikan oleh Kommodius, yang dibunuh pada 192 M. Pada abad ketiga M, terjadi gejolak dan pemberontakan di Romawi yang menyebabkan keterpurukan ekonomi.

Kaisar Diokletianus (284-305 M) dan koleganya Maximianus berusaha membangun kembali kekaisaran. Pengganti Diokletianus adalah Konstantius, yang merupakan ayah Konstantinus Agung (312-337 M). Adalah Konstantinus yang memindahkan ibukota ke Bizantium, yang namanya diganti menjadi Konstantinopel. Konstantinus juga menjadikan Nasrani sebagai agama negara, walaupun dia sendiri baru dibaptis menjelang saat-saat kematiannya.

Kaisar terakhir Romawi, Romulus Augustus, melepaskan mahkotanya di depan Odoacer
Pada abad keempat Masehi, perbatasan Romawi mendapat tekanan hebat dari kaum barbar, terutama oleh kaum Jerman. Kekaisaran Romawi lalu dibagi menjadi dua (394), dan masing-masing dipimpin oleh putra-putra kaisar Theodosius: Honorius memerintah di Romawi Barat, dan Arkadius berkuasa di Romawi Timur. Ada dua kelompok kaum Goth yang paling merusak Romawi, yaitu Visigoth dan Ostrogoth. Kaum Visigoth, dipimpin oleh Alarik, menyerang kota Roma pada 410 M. Karena hal ini, Honorius memanggil pulang legionnya yang sedang bertugas di Britania dan menyuruh mereka untuk mengabaikan daerah tersebut. Romawi Barat lalu diserang oleh Attila orang Hun, yang pasukannya berasal dari Asia Tengah. Attila dikalahkan pada Pertempuran Chalons di Perancis pada 451 M. Attila meninggal pada 453 M, namun setahun sebelumnya Atilla sempat menghancurkan daerah Aquileia di Italia Utara.

Adalah kaum Ostrogoth yang berhasil menaklukan Kekaisaran Romawi Barat. Pemimpin Ostrogoth, Odoaker, mengangkat dirinya sebagai Raja Italia. Dia juga mengasingkan kaisar terakhir Romawi, Romulus Augustus, ke Campagnia pada 76. Kaum Ostrogoth lainnya, dipimpin oleh Theodorik Agung, menginvasi Italia pada 489 M dan mendirikan kerajaan di Italia utara pada 493 M. Masa pemerintahan Theodorik berakhir pada 526 M, namun legendanya tetap abadi. Theodorik menjadi pahlawan dalam mitologi Norwegia, dan dia dikenal sebagai Dietrich dari Verona (atau Theodorik dari Bern).
Tamat

Sumber: http://id.wikibooks.org
Posted by Rifan Syambodo Categories: Label: , ,

Bangsa Romawi adalah penduduk kota Roma. Kota Roma dimulai dari perkampungan kecil di bukit-bukit Palatine dan Aventine. Diceritakan bahwa Romulus adalah raja pertama Roma, dan pendirian Roma secara tradisional terjadi pada 753 SM. Menurut legenda, Romulus merupakan keturunan pahlawan Troya, Aineias, yang bermigrasi ke Latium (Italia) setelah kejatuhan Troya.

Kerajaan Romawi dipimpin oleh tujuh raja. Raja ketujuhnya dikudeta dan rakyat Romawi menggantikannya dengan sistem pemerintahan republik pada 510 SM, sehingga Kerajaan Romawi berubah menjadi Republik Romawi. Pada masa kerajaan, tiga raja terakhir Romawi berasal dari bangsa Etruria (Toscana modern). Pada waku itu, bangsa Etruria adalah orang-orang yang paling kuat dan berpengaruh. Bangsa Etruria juga mengajari bangsa Romawi mengembangkan tulisan, ilmu pasti, arsitektur, seni, dan agama.

Romawi memenangkan serangkaian perang melawan musuh maupun sekutunya sendiri di daerah Latium. Pada abad ketiga SM, Romawi sukses menaklukan sebagian besar semenanjung Italia. Taras (kelak Tartentum) meminta Pirrhos dari Epiros untuk membebaskan kota-kota Yunani di Italia yang dikuasai oleh Romawi. Pirrhos memenangkan beberapa pertempuran (281-275 SM), namun kehilangan banyak sekali pasukan. Karenanya, Pirrhos pernah berkata, "jika sekali lagi kita menang, kita tetap akan dihancurkan oleh Romawi". Hingga kini, ungkapan "Kejayaan Pirrhos" diucapkan untuk menyatakan suatu kemenangan dengan pengorbanan yang besar.

Pada akhirnya, Romawi mengalahkan Yunani pada Pertempuran Beneventum (275 SM), dan Pirrhos harus angkat kaki dari Italia.

Pada saat kampanye militer Pirrhos di Italia dan Sisilia, Kartaghe merupakan sekutu Romawi, karena Pirrhos juga menyerang kota Kartaghe di Sisilia. Tetapi, di kemudian hari Romawi tertarik untuk menguasai Spanyol dan kepulauan Sardinia dan Korsika, yang saat itu dikendalikan oleh Kartaghe. Maka Kartaghe pun berkonfrontasi melawan Romawi dan terjadilan Perang Punik Pertama (264-241 SM). Pada akhirnya Kartaghe terpaksa harus menyetujui perjanjian dari Romawi.

Yang paling terkenal adalah Perang Punik Kedua (218-201 SM) ketika Kartaghe dipimpin oleh jenderal Hannibal Barca. Dengan membawa pasukan besar dari Kartaghe, Hannibal menginvasi Italia dan mengalahkan banyak legion Romawi. Hannibal menggunakan strategi serangan kejutan dan memenangkan pertempuran di Sungai Trebia (218 SM) dan di Danau Trasimene (217 SM). 

Pada Pertempuran Cannae, Hannibal kembali menunjukkan kehebatannya. Sementara Hannibal memimpin pasukan utamanya untuk menahan pasukan Romawi, sisa pasukannya mengelilingi pasukan Romawi dan memotong jalan keluar mereka. Pasukan Romawi lalu dihantam baik dari belakang maupun dari kedua sayap. Semua konsul dan dua mantan konsul Romawi terbunuh dalam pertempuran itu.

Romawi mengalami kerugian yang hebat namun mereka tidak menyerah pada Hannibal. Romawi lalu menunjuk salah satu jenderalnya, Quintus Fabius Maximus Kunktator, sebagai diktator. Strategi Fabius cukup sederhana: ikuti dan ganggu pasukan Hannibal, namun jangan lakukan pertempuran terbuka. Ini adalah jenis perang gerilya. Pada saat yang sama, Romawi mengirim pasukan yang dipimpin oleh Skipio bersaudara untuk menyerang basis Kartaghe di Spanyol, namun mereka terbunuh pada 211 SM. 

Skipio lain (anak dari salah satu Skipio yang terbunuh, kelak dikenal sebagai Skipio Afrikanus) memimpin serangan susulan dan berhasil menguasai Karthage Nova (Karthage baru) di Spanyol. Dia juga berhasil mengalahkan dan mengusir Hasdrubal Barca (adik Hannibal) dari Spanyol. Hasdrubal berusaha bergabung dengan kakaknya di Italia, namun usahanya digagalkan. Hasdrubal dikalahkan pada Pertempuran Metaurus (207 SM). Dengan perginya Kartaghe dari Spanyol, Skipio mengalihkan perhatiannya ke pusat pemerintahan Kartagahe, yaitu di Afrika. Hannibal tak punya pilihan selain meninggalkan Italia dan kembali ke Kartaghe.

Sebuah pertempuran besar terjadi di Zama pada 202 SM. Hannibal dan Skipio belum pernah bertempur sebelumnya, namun Skipio telah mempelajari taktik dan strategi Hannibal. Kali ini, pasukan kavaleri Romawi jumlahnya lebih banyak, dan Skipio menggunakan metode pengepungan milik Hannibal. Skipio mengirimkan pasukan kavalerinya untuk menyerang pasukan Hannibal dari belakang. Pada akhirnya, Kartaghe lagi-lagi harus menyetujui perjanjian damai hasil bikinan Romawi.

Tetapi, perdamaian dengan Kartaghe tidak menghentikan Romawi untuk mencari daerah jajahan baru di luar Italia. Pada saat kampanye militer Kartaghe di Italia, Filipos V (Philip V) dari Makedonia ikut membantu Kartaghe. Akibatnya Romawi pun menyerang Makedonia. Filipos V dikalahkan pada pertempuran di Kinosefalai (197 SM). Sekutu Filipos, Antioklos dari Suriah dan Asia Minor, juga ikut diserang dan dikalahkan. Di kemudian hari, Romawi kembali berperang melawan Makedonia, kali ini Makedonia dipimpin oleh putra Filipos V, yaitu Perseus. Makedonia dikalahkan pada pertempuran di Pidna (168 SM) dan Makedonia pun menjadi daerah jajahan Romawi.

Sementara itu Kartaghe di Afrika dan Korintus di Yunani bangkit melawan Romawi. Namun Romawi mampu mengalahkan mereka. Pada 146 SM, Romawi membakar habis kota Kartaghe dan Korintus. Romawi juga menjual semua penduduk Korinthos sebagai budak dan mengambil semua benda seni mereka. Dengan demikian, Afrika dan Yunani pun menjadi daerah kekuasaan Romawi.
Bersambung...

Sumber: http://id.wikibooks.org
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Promote Your Blog

Recent Posts

Recent Comments